| |
 
Mulanya, cuma ingin mencari pernik rumah yang tak kunjung selesai pembangunannya ini. Maklumlah....sebagai warga yang tidak bertitel konglomerat, pembangunan sebuah rumah tentu harus dilakukan amat perlahan. Kebetulan juga kami adalah orang Jawa, sehingga disini terjadilah apa yang dikatakan " alon-alon asal kelakon". Maka, dalam waktu-waktu itu dan ini, kami seringkali menyusuri kota, sejak tengah hingga pinggiran, demi segala yang kami butuhkan dan impikan. Termasuk segala impian tentang pernik dari rumah ini. Maka kesanalah kami menghabiskan akhir pekan lalu. Nyatanya rumah itu memang begitu sejuk dan sangat indah. Berada di dalamnya serasa ingin menikmati sebuah bulan madu penuh kenangan tak terlupakan. Terlebih bagi orang-orang yang penuh cinta. Seperti aku juga yang selalu jatuh cinta pada karya-karya yang ada disana. Tapi pasti bukan aku seorang yang tiba-tiba disergap rasa romantis. Setidaknya, kulihat kekasih-kekasih kecilku amat tidak menyesali bangun paginya yang terpaksa. Dan terluncur juga sebuah kalimat janggal dari salah satunya," aku ingin menikah disini....' Ya, tentu saja janggal jika itu dia yang mengucapkannya. Bagian terbaik dari semuanya, adalah kesempatan untuk merasakan diri sebagai seorang seniman pembuat keramik. Tak usahlah ditanyakan bagaimana perasaanku untuk kesempatan yang diberikan itu. Karena tak dipungkiri, rasa seni dan berkubang di dalamnya tentu akan menggelitik satu sumbu hatiku. Aku bicara tentang kekasih-kekasihku itu. Mereka begitu gembira melihat terbukanya kesempatan untuk melakukan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Terlebih jika hasilnya akan berwujud nyata dan dapat dikagumi sendiri hingga akhir masa. Kembali pada soal warga kebanyakan bukan komglomerat tadi, lembaran yang mungkin melayang di rumah ini untuk membawa pulang pernak pernik yang disukai bisa relatif membuat dahi ibu rumahtangga berkerut. Setidaknya dari sisi kotak kulit yang terselip di bawah lenganku. Hal ini membuatku berpikir nakal. Kekasih-kekasihku itu kuminta membuat hasil karya yang bentuknya tidak terlalu besar. Dengan demikian dari tanah liat sebesar bola tenis itu, akan bisa dibawa pulang beberapa macam pernik yang jika harus diuangkan, membuat kita mengurungkan niat. Yah....mungkin bisa dimaklum oleh sesama perempuan. Tapi yang terpenting, rasanya daun-daun tanaman disana tidak hanya melambai tertiup angin, namun juga seolah memanggilku kembali dan kembali lagi......asalkan pak Uban bisa selalu berlega hati membuka dompetnya...oouuch !
 | hahahahahaha setuju tuh menikah di sana, tempatnya bagus banget kan? gw belum pernah ke sana tapi pernah baca laporan foto detil di sebuah majalah ck...ck...ck......keren banget. jadi udah bisa lah ya lo minta anak2 bikin sendiri buat nambah koleksi pernak pernik? hihihi
|
 | keren hasil karyanya mbak.., ini bikinan anak2..?? loaksi tempat pembuatannya dimana..?? kayak yg di nyoman nuarta bandung bukan..?? |
 | sapa nek yg pengen nikah disana ? pasti si bungsu kekekek
eh yg daun bagus. gede. sebesar bola tenis doank bisa dibikin banyak ya ?! |
 | Pengeeeeeeeeeeeen, pengen bgt ah ke sana. |
 | whaaaaaaaaaaaaa......mauuuuu juuugaaaaaaa............jd gimana caranya ke sana? |
| | |
|
|