Masaku bersekolah dulu, hal paling menyenangkan adalah saat memulai tahun ajaran baru. Dari sekian banyak hal yang bisa terjadi untuk menyenangkan hati, aku punya perhatian khusus pada buku tulis baru. Bersampul rapi dengan lapisan plastik, halaman-halaman bergaris dan masih kosong, putih bersih. Selalu saja aku tak sabar untuk memulai pelajaran, hanya demi alasan untuk bisa menulis. Dan setiap kali akan menggoreskan pena, dalam hatiku selalu seperti bersenandung sebuah doa. Niat tentang menulis dngan baik, bagus, indah dan bersih tanpa goresan kesalahan ataupun noda cat penghapus tinta.

 

Beranjak makin besar, mengenal tentang sastra rumit. Kerumitan yang tak pernah ingin dikenal seorang anak hanya agar otaknya tidak harus berkerut menghafal segala gurindam, jajaran penulis, prosa sonata maupun puisi. Aku bahkan tak pernah berhasil mendefinisikan dengan baik apa itu prosa.  Tapi aku suka kata-kata indah. Aku suka menuangkan hati dalam tulisan. Kadang apa yang ingin dituangkan menjadi terlalu berlimpah hingga muncul kebingungan untuk merangkaikan kata dan kalimat yang tidak berloncatan kian kemari tak tentu arah. Kelak, hal begini kumaknai sendiri sebagai isi kepala yang terlalu berisik. Mungkin tak punya arti. Sangat bisa terjadi tak saling berhubungan. Dan makin membingungkan untuk dituangkan, tapi terlalu menyesaki otak untuk dibiarkan berkelana begitu saja dalam kepala. Saat itu, muncullah tulisan-tulisan norak yang berakhir di tong sampah.

 

Aku masih tertarik pada keindahan rangkaian kata, tapi tak berusaha lagi menulis. Lebih baik membaca karya-karya tulisan dan mengagumi kemampuan penulisnya untuk merangkaikan ide dengan huruf-huruf bermakna. Sekaligus menikmati kesempatan dimana aku tak lagi bermain petak umpet dengan ibuku; entah karena alasan yang katanya tak cukup umur untuk membaca sebuah novel, ataupun karena alasan tak mengerjakan cucian dan masakan dan urusan rumah tangga lainnya yang sudah wajib kukerjakan sejak masih tak bisa menyisir rambut sendiri. Dan ketika mulai merangkai kebersamaan dengan Uban tersayang, meski malu-malu namun sombong karena sudah punya pacar, kesenanganku mengagumi kemampuan seseorang dalam merangkai kata seperti mendapat bensin. Menjadikan sebuah karya sebagai ajang diskusi, dan alasan lain untuk menikmati masa pacaran kami.

 

Aku masih tidak mengerti tentang sastra. Hanya mengagumi saja keindahan kata dan kalimat. Mengenali ciri khas manusia yang merangkainya. Dan aku punya kesempatan untuk ikut serta dan mengulangi lagi masa dulu. Merangkai kata norak yang kunekadkan untuk tidak berakhir di tempat sampah, tapi biarlah yang membaca yang meludahi kalau tak suka. Aku punya ladang bercerita, meski aku masih sering mentertawakan sendiri ide yang muncul di kepala untuk dituliskan. Kalau ini yang terjadi, maka tertawa itulah penutupnya dan bukan publish. Akhirnya, aku hanya membaca semua tulisan. Dan menonton koleksi film yang bisa membuatku berkhayal, andaikan aku adalah si penceritanya.

 

Hari ini, aku ingin merangkai lagi huruf-huruf yang muncul tak jelas di belantara alam khayalku. Lagi-lagi, tak berhubungan satu sama lain. Tapi aku tak punya kesempatan untuk memolesnya agar lebih sedap didengarkan jika diucapkan. Maka beginilah caraku mengeluh. Mengeluh tentang tak adanya kesempatan, itu pasti. Mengeluh tentang keinginanku yang terlalu tinggi untuk bisa menjadi seseorang yang mampu menebarkan keindahan rangkaian kata dan kalimat, entah bermakna atau tidak. Mengeluh tentang kemampuan yang tak juga bertambah dalam menghasilkan sebuah tulisan. Dan mengeluh, karena keinginanku itu membuatku  berpikir tak tentu arah, makin merasakan banyak hal dan makin tak bisa dilepaskan dari sarana yang ada untuk menuangkan semuanya. Akhirnya, aku jadi mengeluh karena membingungkan banyak orang dengan apa yang ada di sini.

 

Mungkin ini saatnya tertawa……untuk alasan apapun, yang tak lucu, yang ironis dan macam-macam.

 

 


10 CommentsChronological   Reverse   Threaded
junjungbuih wrote on Feb 12
mungkin ini saatnya semangat menulis itu kembali hadir...
tulisannya bagus, terangkai indah dan rapi...tetap semangat ya, mba...
suryatmaning wrote on Feb 12
Sing penting ora mandeg nulis.
Nulis terussssssssss!
penichitrawaty wrote on Feb 12
Gak ngerti sastra koq ...setiap nulis...kata2nya apeeeeek sisaaan.....
endangchantique wrote on Feb 12
.tetap semangat ya, mba...
makasih mbaaaak.....
endangchantique wrote on Feb 12
Sing penting ora mandeg nulis.
Nulis terussssssssss!
ho oh...semangat, semangat !
endangchantique wrote on Feb 12
Gak ngerti sastra koq ...setiap nulis...kata2nya apeeeeek sisaaan.....
hussss.......jgn menyesatkan neng.....hekhekhek.......
ezrakarundeng wrote on Feb 13
tuliiiiiiiiiiiiiisssssssssssss...........
endangchantique wrote on Feb 13
tuliiiiiiiiiiiiiisssssssssssss...........
ho ooooooooh....
mayaekt wrote on Feb 13
tulisannya bagus kok mba, kenapa gak jadi penulis beneran aja... maksudnya penulis profesional gitu loh........
endangchantique wrote on Feb 13
mayaekt said
tulisannya bagus kok mba, kenapa gak jadi penulis beneran aja... maksudnya penulis profesional gitu loh........
mmmm...........malu ah, belum apa2.....gak laku ntar;))
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help